Wednesday, December 4, 2013

Pendidikan dan Kemanusiaan

Saya sehari-hari berkegiatan di dunia pendidikan pasca sarjana.
Pagi siang malam saya habiskan dengan diskusi, kuliah, riset tugas-tugas yang berjibun banyaknya.
Kebanyakan penelitian saya fokuskan pada sendi-sendi hak asasi manusia, dan memang berhubungan langsung dengan konsentrasi saya, hukum internasional.
Sehari-hari saya juga bergaul dengan teman-teman yang senang berdiskusi, baik di dunia kuliah maupun diluar sana.
Teman-teman saya adalah orang yang berpendidikan.

Selama ini saya menganggap pendidikan adalah kunci bertoleransi. 
Semakin berpendidikan dia semakin terbukalah. 
Hipotesa ini didukung oleh kegiatan berorganisasi saya yang sedang hits banget di hidup saya. Kebanyakan orang yang concern terhadap isu-isu agamis dan kemanusiaan adalah orang-orang terpelajar. Bukan dari segi tingginya pendidikan saja, tetapi juga dari kemauan mereka untuk membaca dan menemukan sebab-akibat dari suatu kejadian. 

Ternyata, saya harus menelan hipotesa saya sendiri dan membuktikan bahwa itu salah.
Dunia pendidikan yang saya jalani sehari-hari tidak mencetak orang-orang dengan sisi kemanusiaan yang tinggi.
Teman-teman saya yang berpendidikan tersebut belum tentu mau lebih terbuka.
Sebagai contoh, saat saya membahas kasus mengenai pembantaian teman-teman Muslim Ahmadiyah, teman-teman satu angkatan saya yang beraliran Islam "mainstream" tidak mendukung adanya perlindungan terhadap teman-teman Ahmadiyah. Bagi mereka, aliran agama tersebut salah, dan tidak boleh dikategorikan sebagai Islam.

Saya tercenung. 
Bila mereka bukan Islam, tidaak bolehkah mereka dilindungi negara?
Bukankah konsepsi HAM yang selama ini repot-repot kita pelajari tidak memandang suku agama dan ras?
Bukankah semuanya harus dilindungi?
Bukankah itu yang dikejar teman-teman saya, perlindungan hukum yang bisa menjangkau siapapun?

Semakin saya bergelut dalam dunia keorganisasian lintas agama, semakin terbukalah pemikiran saya.
Ternyata, pendidikan tidak menjamin toleransi seseorang.
Banyak lelucon mengenai agama yang bisa dengan mudahnya ditertawakan dalam organisasi, hanya dipandang remeh oleh teman-teman perkuliahan saya.
Saya bingung. Bukankah orang berpendidikan tinggi lebih mudah mengenal satir dan sarkasme?

Bukti yang paling kuat adalah sedikit sekali yang mendukung kegiatan lintas agama ini.
Ah saya sedih.
Kalau para sarjana tidak mendukung usaha toleransi, siapa lagi yang bisa berpikir untuk mengubah pola kekerasan di Indonesia ini?
Arogansi sosial atau pribadikah yang menyebabkan prasangka semacam itu?
Saya belum menemukan jawabannya.

No comments:

Post a Comment