Tuesday, December 31, 2013

Bernatal Tahun Ini

25 Desember 2013, untuk kesekian kalinya saya menghabiskan hari Natal jauh dari rumah.
Selama ini Natal, dan hari raya keagamaan lainnya selalu diasosiasikan dengan berkumpul bersama keluarga.
Sekedar duduk-duduk dan berbagi cerita di rumah selepas misa natal bersama.
Sebagai mahasiswa yang hari libur fakultasnya tidak sesuai dengan hari raya agama saya, kemewahan berkumpul bersama keluarga tahun ini kembali tidak bisa saya nikmati.
Mau nikmati bagaimana, dua hari sebelum natal saja saya masih kuliah.
Untuk itu tahun ini saya sudah pasrah, tidak repot-repot berburu tiket murah pun tidak repot-repot meyakinkan keluarga untuk memberikan uang saku lebih demi merayakan natal dirumah.


Mungkin bisa saya katakan kemewahan yang alpa dinikmati tahun ini digantikan dengan sepercik keberuntungan.
Keberentungan menemukan apa yang dimaksud sebagai "kasih" dalam Natal tahun ini.


Beberapa terakhir ini hari natal selalu heboh dengan digadang-gadangkannya fatwa penolakan ucapan selamat hari Natal oleh MUI.
Bila belasan tahun silam hari Natal diwarnai trend pemboman gereja, sekarang ucapan selamat merayakan pun tidak diperbolehkan.
Saya bukan aktifis garis keras yang menentang dan menolak itu dimanapun saya bisa berbicara.
Pun saya bukan seseorang dengan religiusitas tinggi yang mengagung-agungkan agama saya sendiri dan membela perayaan Natal tersebut.
Saya cenderung diam dan bersikap tidak ribut, seperti ratusan umat Kristiani lain yang memilih diam daripada memancing keributan dan emosi dalam isu-isu sensitif keagamaan.


Bertahun-rahun, bentrokan keagamaan telah memancing prasangka dan ketakutan dalam kehidupan sosial sekitar saya.
Teman-teman dari agama lain dianggap sebagai orang-orang berbahaya dan sebisa mungkin dijauhi
"Jangan terlalu dekat dengan mereka."
"Jangan berteman dengan mereka."
"Hati-hati, mereka semua munafik."
"Awas, mereka teroris."
Seakan-akan kita bukan sesama manusia yang setara.


Menyedihkan. 
Saya tidak pernah berpikir bahwa teman-teman agama lainpun mungkin diwanti-wanti dengan ketakutan yang sama.


Tetapi, pada hari Natal kemarin saya mengakui bahwa harapan persatuan ternyata masih ada.
Bagaimana saya menjelaskan perasaan campur aduk saat melihat bahwa ternyata teman-teman dari agama lainlah yang begitu keras menentang larangan pengucapan selamat Natal?
Bagaimana saya menjelaskan perasaan haru melihat teman-teman agama lain dengan gagah berani melangkahkan kaki kedalam gereja yang selama ini dibesar-besarkan sebagai tempat terlarang bagi mereka?
Bagaimana pula menjelaskan perasaan cemas melihat mereka begitu lantang mengucapkan selamat hari natal? 
Cemas akan pandangan orang-orang dari agama teman-teman yang mengharamkan ucapan tersebut?


Sungguhpun memang segala berita yang wara wiri didepan kita begitu menyesatkan persepsi kita akan sesama.
Semua peristiwa kebencian itu ikut menyetir cara pandang kita akan sesama.
Kita lebih percaya ketakutan daripada percaya sesama manusia, kepada teman kita sendiri.


Masih bisakah kita percaya kepada sahabat yang berbeda kepercayaan disamping kita?
Masih bisakah kita percaya pada kasih?


Saya tidak tahu.


Saya harus bertepuk tangan untuk teman-teman pada hari Natal kemarin yang menunjukkan kasih lebih nyata daripada kami yang benar-benar merayakan Natal itu sendiri.
Sesungguhnya Natal sekarang sudah terkotak sebatas pohon terang, Santa Claus, baju baru, kue kering, kado-kado mahal dan nyanyian-nyanyian artis-artis bertarif selangit.
Terkadang kita lupa semangat Natal itu sendiri, semangat mengasihi tanpa minta dikasihani.


Semangat yang sudah mulai pudar itu justru saya temukan di teman-teman yang berbeda agama, teman-teman yang tidak merayakan Natal itu sendiri.
Saya tidak tahu, bila saya dalam posisi yang sama dengan mereka, sanggupkah saya menunjukkan kasih sebesar itu?


Jadi, dalam catatan yang sudah lewat sehari, ijinkan saya mengucapkan terimakasih.
Terimakasih untuk mengingatkan apa itu kasih, terimakasih untuk mengembalikan kepercayaan kepada sesama manusia itu.
Terimakasih untuk tidak menyerah pada prasangka.


Katanya, rumah adalah dimana hati berada.
Mungkin, sekarang orang-orang seperti saya menemukan rumah kedua.
Rumah adalah dimana hati, dan teman berada :)

Wednesday, December 4, 2013

Pendidikan dan Kemanusiaan

Saya sehari-hari berkegiatan di dunia pendidikan pasca sarjana.
Pagi siang malam saya habiskan dengan diskusi, kuliah, riset tugas-tugas yang berjibun banyaknya.
Kebanyakan penelitian saya fokuskan pada sendi-sendi hak asasi manusia, dan memang berhubungan langsung dengan konsentrasi saya, hukum internasional.
Sehari-hari saya juga bergaul dengan teman-teman yang senang berdiskusi, baik di dunia kuliah maupun diluar sana.
Teman-teman saya adalah orang yang berpendidikan.

Selama ini saya menganggap pendidikan adalah kunci bertoleransi. 
Semakin berpendidikan dia semakin terbukalah. 
Hipotesa ini didukung oleh kegiatan berorganisasi saya yang sedang hits banget di hidup saya. Kebanyakan orang yang concern terhadap isu-isu agamis dan kemanusiaan adalah orang-orang terpelajar. Bukan dari segi tingginya pendidikan saja, tetapi juga dari kemauan mereka untuk membaca dan menemukan sebab-akibat dari suatu kejadian. 

Ternyata, saya harus menelan hipotesa saya sendiri dan membuktikan bahwa itu salah.
Dunia pendidikan yang saya jalani sehari-hari tidak mencetak orang-orang dengan sisi kemanusiaan yang tinggi.
Teman-teman saya yang berpendidikan tersebut belum tentu mau lebih terbuka.
Sebagai contoh, saat saya membahas kasus mengenai pembantaian teman-teman Muslim Ahmadiyah, teman-teman satu angkatan saya yang beraliran Islam "mainstream" tidak mendukung adanya perlindungan terhadap teman-teman Ahmadiyah. Bagi mereka, aliran agama tersebut salah, dan tidak boleh dikategorikan sebagai Islam.

Saya tercenung. 
Bila mereka bukan Islam, tidaak bolehkah mereka dilindungi negara?
Bukankah konsepsi HAM yang selama ini repot-repot kita pelajari tidak memandang suku agama dan ras?
Bukankah semuanya harus dilindungi?
Bukankah itu yang dikejar teman-teman saya, perlindungan hukum yang bisa menjangkau siapapun?

Semakin saya bergelut dalam dunia keorganisasian lintas agama, semakin terbukalah pemikiran saya.
Ternyata, pendidikan tidak menjamin toleransi seseorang.
Banyak lelucon mengenai agama yang bisa dengan mudahnya ditertawakan dalam organisasi, hanya dipandang remeh oleh teman-teman perkuliahan saya.
Saya bingung. Bukankah orang berpendidikan tinggi lebih mudah mengenal satir dan sarkasme?

Bukti yang paling kuat adalah sedikit sekali yang mendukung kegiatan lintas agama ini.
Ah saya sedih.
Kalau para sarjana tidak mendukung usaha toleransi, siapa lagi yang bisa berpikir untuk mengubah pola kekerasan di Indonesia ini?
Arogansi sosial atau pribadikah yang menyebabkan prasangka semacam itu?
Saya belum menemukan jawabannya.