I have to add that I am not a radical, not even a "human right extremist" (if such exist). I am just appealed about so much hypocrisy. You are playing in the hands of those - still few - radicals that want to purify Indonesia of all what they regard as heresies and heathen.Franz Magnis-Suseno SJKutipan diatas adalah sepenggal tulisan dari surat terbuka oleh Romo Franz Magnis Suseno yang berkeberatan atas penganugerahaan World Statesman Award kepada President Susilo Bambang Yudhoyono yang ditulis pada bulan Mei 2013.
Saya tidak ingin berbicara mengenai polemik pro dan kontra pemberian award yang sangat mengganggu masyarakat Indonesia tersebut, tetapi saya hanya ingin menunjukkan kekaguman saya terhadap tulisan Romo Franz diatas.
I have to add that I am not a radical, not even a "human right extremist" (if such exist).Saya bukan seorang yang radikal, bukan seorang ektrimis hak asasi manusia (bila memang ekstrimis hak asasi manusia memang ada).Buat saya, Romo Franz menunjukkan, bahwa penghormatan terhadap hak-hak dasar kemanusiaan tidak perlu menjadi seorang yang radikal, tidak perlu "pake otot", tidak perlu menajdi seorang ekstrimis.
Dan yang menarik adalah kata-kata "not even a human right extremist, if such exist".
Jadi, seorang ekstrimis hak asasi manusia itu tidak pernah ada?
Mungkin, hanya mungkin, bahwa untuk menghormati hak-hak dasar manusia, tidak pernah ada jalan ekstrim.
Penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, adalah jalan panjang yang sepi dan damai, tanpa huru hara, tanpa perlu kobaran api dan bahkan amarah.
Bahwa penghormatan itu muncul dari pemikiran-pemikiran terdalam yang didapat dari perenungan lama dan tidak berbenturan. Bahwa penghormatan adalah jalan yang lembut dan tidak menghakimi.
I am just appealed about so much hypocrisy.
Ya Romo, ya, saya juga. Saya kagum dengan banyaknya hypocrite yang saya temui. Atau mungkin saya juga?
Saya kagum dengan banyaknya orang yang berkata dia berada di jalan Tuhan, menyapa Tuhan dengan setiap kata-katanya, tetapi menyakiti orang lain dnegan tangannya.
Jalan Tuhan adalah jalan mencintai sesama. Penghormatan, penghargaan, pertolongan adalah jalan untuk mencintai Tuhan dalam entitasnya yang paling dekat dengan kita.
Saya ingat dnegan the living code suku Maya yang kita hujat karena dikatakan tidak mengenal Tuhan.
In Lak'ech Ala K'in; I am another yourself
Saya menghormati diri saya dengan menghormatimu.
Itulah esensi utama interksi saya dnegan Tuhan. Saya menghormatimu, sebagai perwujudan cinta kasih Tuhan dalam hidup saya. Karena itu, hypocrisy, dalam bentuknya yang paling indah, membuat saya kagum.
Bagaimana mungkin saya mencintai Tuhan bila saya tidak mencintai manusia?
Ya Romo, saya juga kagum.
Ketika nanti saya bingung dengan apa yang saya yakini, surat kecil Romo akan menjadi jalan bagi saya untuk mengingat apa yangs aya lupakan. Surat Romo bukan hanya surat protes kepada mereka yang membingungkan kita, tetapi juga surat luar biasa besar bagi kita untuk terus mengingat.

No comments:
Post a Comment